MENGINDENTIFIKASI KESEMPATAN DAN HAMBATAN EKSTERNAL DALAM
PEMBELAJARAN ELEKTRONIK
Niswatun Khasanah
ningniswa@gmail.com
A. . PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Saat ini, model pembelajaran semakin hari
semakin maju. Oleh karena itu, diperlukan inovasi-inovasi serta
perubahan-perubahan di setiap bidang tak terkecuali bidang pendidikan. Inovasi
dan perubahan ini sangat diperlukan demi mewujudkan pendidikan yang maju agar
ke depannya dapat menjadikan warga Indonesia berdaya saing tinggi. Salah satu
inovasi dalam bidang pendidikan adalah diaplikasikannya seperangkat peralatan
elektronik yang diharapkan mampu mendorong kemajuan pendidikan. Namun, salad
pengaplikasiannya, seperangkat peralatan elektronik ini menemui beberapa
hambatan.
Dapat beberapa
pakar dan ahli teknologi setelah berinovasi dengan cara cara memajukan
pendidikan dengan menempatkan pembelajaran menggunakan alat elektronik
disamping itu, pembelajaran yang menggunakan alat elektronik tentu saja
memiliki kesempatan dan hambatan eksternal, Oleh karena itu kita harus
pintar-pintar dalam memilah-milah hal baik maupun buruk untuk kedepannya, oleh
karena itu dalam karya tulis ilmiah ini akan dibahas mengenai Mengindentifikasi
Kesempatan dan Hambatan Eksternal dalam Pembelajaran Elektronik.
2. Rumusan
Masalah
1. Apakah yang dimaksud
dengan pembelajaran elektronik?
2. Apa
saja kesempatan dalam pembelajaran elektronik?
3. Apa
saja hambatan eksternal dalam pembelajaran elektronik?
B. PEMBAHASAN
1.
Pengertian Pembelajaran Elektronik
Menurut KBBI (2009:8)[1], pembelajaran
dengan kata dasar ajar artinya suatu ilmu/ pengeatahuan berproses agar
diketahui banyak orang. Pembelajaran adalah sesuatu yang berproses untuk
menjadikan seseorang tidak tahu menjadi tahu yang dimana mau belajar. Menurut
Wikipedia[2], pembelajaran
adalah sesuatu yang berproses interaksi pendidik oleh peserta didik untuk
memperoleh pengetahuan/ ilmu di bangku sekolah.
Menurut
Agustina dan Hamdu[3], pembelajaran
yaitu suatu cara yang dilakukan oleh individu guna memperoleh perilaku yang baru
secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman sendiri dalam interaksi
dengan lingkungannya. Kesimpulannya, pembelajaran merupakan sesuatu yang kegiatan
sistematik yang bersifat interaktif dan komunikatif oleh pendidik dengan
peserta didik untuk memperoleh pengetahuan serta dibangku sekolah guna
menghasilkan terjadinya tindakan belajar siswa suatu kegiatan belajar mengajar.
Menurut KBBI
(2009:191)[4], elektronika
adalah media yang dirancang berdasarkan prinsip elektronika; benda yang
menggunakan media dibentuk atas dasar elektronika. Menurut Wikipedia[5], elektronik
adalah media dibuat berdasarkan prinsip elektronika serta hal/ benda yang
menggunakan alat tersebut. Menurut Carol E. Young, electronic is the study, design, and use of devices that depend on. Menurut Carol E. Young, elektronik
adalah studi, perancangan dan pengunaan piranti berdasarkan media yang
digunakan. Kesimpulannya, teknologi yang memiliki sifat listrik, digital,
magnetic, nir- kabel, optik elektromagnetik.
Jadi, kesimpulannya
pembelajaran elektronik adalah proses intruksi/ pembelajaran yang melibatkan
penggunaan peralatan elektronik dalam menciptakan, membantu perkembangan,
penyampaian, menilai dan memudahkan suatu proses brlajar mengajar sebagai
pusatnya serta dilakukan secara interaktif kapanpun dan dimanapun.
2.
Kesempatan dalam Pembelajaran
Elektronik
Kesempatan
dalam pembelajaran elektronik, terdapat empat, yaitu:
a. Meningkatkan
kadar interaksi pembelajaran antara siswa dengan guru (enhance
interacitivity)
Apanila dirancang dengan cermat, pembelajaran elektronik bisa
meningkatkan kadar interaksi pembelajaran, antara siswa dengan guru, antara
siswa dengan bahan belajar (enhance interactivity). Berbeda dengan
pembelajaran bersifat konvensional, tidak seluruh siswa dalam
kegiatan pembelajaran konvensional berani atau mempunyai
kesempatan untuk mengajukan pertanyaan dalam diskusi. Karena pada
pembelajaran yang bersifat konvensional, kesempatan yang disediakan oleh guru
untuk berdiskusi sangat terbatas. Biasanya, kesempatan yang terbatas ini juga
cenderung didominasi oleh beberapa siswa yang cepat tanggap dan berani. Keadaan
yang demikian, tidak akan terjadi pada pembelajaran elektronik, siswa awalnya malu
atau kurang berani mempunyai peluang yang luas untuk mengajukan pertanyaan
maupun menyampaikan pernyataan/ pendapat tanpa merasa diawasi atau mendapat tekanan dari teman
sekelas.
b.
Memungkinkan interaksi pembelajaran
dimana saja dan kapan saja ( time and place flexibility),
Mengingat sumber belajar yang sudah dirapikan secara elektronik dan siswa
disediakan layanan akses melalui internet, maka siswa dapat melakukan interaksi
dengan sumber belajar ini kapan saja dan di mana saja. Demikian juga dengan
tugas-tugas, kegiatan pembelajaran, dapat diserahkan kepada guru begitu selesai
dikerjakan. Tidak perlu menunggu sampai ada janji untuk bertemu dengan guru.
Siswa tidak terikat ketat dengan waktu dan tempat penyelenggaraan kegiatan
pembelajaran sebagaimana halnya pada pendidikan konvensional.
c.
Menjangkau siswa dalam cakupan yang luas (potential
to reach a global audience),
Fleksibilitas waktu dan tempat dapat dijangkau oleh jumlah siswa melalui
kegiatan pembelajaran elektroniksecara meluas. Tempat dan waktu tidak lagi menjadi hambatan. Siapa saja, di
mana saja, dan kapan saja, seseorang dapat belajar. Interaksi dengan sumber
belajar dilakukan melalui internet. Kesempatan belajar benar-benar terbuka
lebar bagi siapa saja yang membutuhkan layanan akses ini.
d. Mempermudah
penyempurnaan dan penyimpanan materi pembejaran (easy updating of content as
well as archivable capabilities).
Fasilitas yang tersedia dalam teknologi internet terus berkembang, dalam
hal ini turut membantu mempermudah pengembangan bahan belajar elektronik.
Demikian juga dengan penyempurnaan atau pemutakhiran bahan belajar sesuai
dengan tuntutan perkembangan materi keilmuannya dapat dilakukan secara mudah.
Di samping itu, penyempurnaan metode penyajian materi pembelajaran dapat
dilakukan dengan baik yang didasarkan atas umpan balik dari siswa maupun hasil
penilaian guru selaku penanggung- jawab dalam materi pembelajaran itu sendiri.
Pengetahuan dan keterampilan untuk pengembangan bahan belajar elektronik ini
perlu dikuasai terlebih dahulu oleh guru yang akan mengembangkan bahan belajar
elektronik. Demikian juga, dengan pengelolaan kegiatan pembelajarannya sendiri.
Harus ada komitmen dari guru yang akan memantau perkembangan kegiatan belajar
siswanya serta guru secara teratur memotivasi siswanya.
3.
Hambatan Eksternal dalam
Pembelajaran Elektronik
Hambatan eksternal dalam pembelajaran elektronik, sebagai berikut:
a)
Sistem Pendidikan mendapat banyak
masalah, seperti kurangnya dalam peralatan, sumber daya manusia dan
keterbatasan teknologi pendidikan,
b)
Kualitas pengajar yang belum mencukupi
keahlian (Jaya, 2007)[6]
c)
Penggunaan media e- learning
yang memiliki kapasitas yang cukup besar, koneksi jaringan dan kesalahan
teknis, seperti server down and error, dapat menghambat keberhasilan pembelajaran
(Nurmukhametov et al., 2015),[7]
d)
Penggunaan hypermedia technology
tidak memiliki nilai tambah jika digunakan hanya untuk mengganti tugas- tugas
yang menggunakan kertas atas tulisan tangan (Yengin et al., 2011), [8]
e)
Pada masa pandemi banyak orang tak
bertanggung jawab melakukan tindak kejahatan, seperti bocornya akun yang
tercantum dalam aplikasi diskusi dan penunjangan pembelajaran yang merugikan
banyak pihak dan proses pembelajaran yang terganggu (Tahar., nd),[9]
f)
Sulit untuk mengontrol perkembangan
pembelajaran, walaupun menggunakan game education, dapat menumbuhkan minat belajar dalam
peningkatan keberhasilan pembelajaran masih kecil (Education et l., 2012),[10]
g)
Kreatifitas pengajar dalam
memberikan materi lewat media juga diperbolehkan, sebagai faktor yang
mempengaruhi minat belajar dalam PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) ini. (Simbolon.,
2014).[11]
C. PENUTUP
1.
Kesimpulan
·
Pembelajaran elektronik adalah
proses intruksi/ pembelajaran dengan melibatkan penggunaan media peralatan
elektronik dalam menciptakan, penyampaian, menilai serta memudahkan suatu
proses kegiatan belajar mengajar sebagai pusat serta dilakukan secara
interaktif kapanpun dan dimanapun.
·
Kesempatan dalam pembelajaran
elektronik, menurut K. Wulf (1996: 10), terdapat empat, yaitu: Meningkatkan
kadar interaksi pembelajaran antara siswa dengan guru (enhance
interactivity), memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dimana saja
dan kapan saja ( time and place flexibility), menjangkau siswa dalam
cakupan yang luas (potential to reach a global audience), dan
mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembejaran (easy updating
of content as well as archivable capabilities).
·
Hambatan eksternal dalam
pembelajaran elektronik, yaitu sistem pendidikan mendapat banyak masalah, kualitas
pengajar yang belum mencukupi keahlian, penggunaan media e- learning yang
memiliki kapasitas yang cukup besar, koneksi jaringan dan kesalahan teknis,
penggunaan hypermedia technology tidak memiliki nilai tambah, pada masa
pandemi banyak orang tak bertanggung jawab melakukan tindak kejahatan, sulit
untuk mengontrol perkembangan pembelajaran, walaupun menggunakan game
education, dan kreatifitas pengajar dalam memberikan materi lewat media
juga diperbolehkan.
2.
Saran
Dalam pembelajaran elektronik/ e- learning ada kekurangan
semangat untuk belajar jika tidak inisiatif sendiri, materi yang diberikan
hanya melintas di otak serta menunda- nunda waktu pengerjaan / deadline. Kurang
efektif bagi kaum kurang mampu dalam pembelian kouta/ pulsa, kurang efektif
juga dalam memahami materi yang diberikan.
Sebaiknya,
dosen pengampu/ guru memberikan untuk bisa tatap muka, meskipun itu seminggu
sekali. Dan juga bertemu kawan- kawan.
D.
DAFTAR RUJUKAN
Agustina
& Hamdu G., L (2011). Pengaruh motivasi belajar siswa terhadap prestasi
belajar IPA di Sekolah Dasar. Jurnal Penelitian Pendidikan, Rumah Publikasi. com 12(1), 81- 86
Alya
Qonita, KBBI, PT Indah Jaya Adipratama, 2009, hal. 8
Andrew Jonathan, Henry Brando Junus Sompotan,
Yudhisthira Arya Nandaline, Yulyani Arifin, “ The friendship Game of Pancasila:
Design, Implementation, and Evaluation”, 2020 International Conference on
Information Managemant and Technology (ICIMTech), 2020, lib.unnes.ac.id
Education
in Kazakhstan. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 182,
15–19. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.04.729
https: // id.wikipedia.org/wiki/ pembelajaran, akses tgl
23/10/2020, pkl 21:56
https: //
id.wikipedia.org/ wiki/ elektronik, akses tgl 23/10/2020, pkl 23:54.
Jaya, H. N. (2017). Keterampilan Dasar Guru
untuk Menciptakan Suasana Belajar yang Menyenangkan. Didaktis: Jurnal
Pendidikan Dan Ilmu Pengetahuan,17(1),2335.journal.umsurabaya.ac.id/index.php/.../article/.../1275%0A%0A
Nurmukhametov, N., Temirova, A., &
Bekzhanova, T. (2015). The Problems of Development of Distance
Tahar, I. (n.d.). Hubungan Kemandirian
Belajar Dan Hasil Belajar Pada Pendidikan Jarak Jauh. text-id.123dok.com
Simbolon, N.
(2014). Faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar peserta didik. Elementary
School Journal Pgsd Fip Unimed, 1(2), 14–19. https://doi.org/10.24114/ESJPGSD.
Wahidsistemkomputer.blogspot.com V1I2.1323
Yengin, I.,
Karahoca, A., Karahoca, D., & Uzunboylu, H. (2011). Deciding which
technology is the best for distance education: Issues in media/technology
comparisons studies. Procedia Computer Science, 3, 1388–1395. https://doi.org/10.1016/j.procs.
Universitas Negeri Jakarta, 2011.01.020
[1] KBBI, Alya Qonita, PT Indah Jaya Adipratama, 2009, hal. 8
[2] https: // id.wikipedia.org/wiki/ pembelajaran, akses
tgl 23/10/2020, pkl 21:56
[3] Agustina & Hamdu G., L(2011). Pengaruh motivasi belajar
siswa terhadap prestasi belajar IPA di
Sekolah Dasar. Jurnal Penelitian
Pendidikan, Rumah
Publikasi.com 12(1), 81-86.
[4] Ibid, hal. 191
[5] https:
// id.wikipedia.org/ wiki/ elektronik, akses tgl 23/10/2020,
pkl 23:54.
[6] Jaya, H. N. (2017). Keterampilan Dasar Guru untuk Menciptakan
Suasana Belajar yang Menyenagkan. Repository. Uph. edu, journal.um-surabaya.ac.id/index.php/.../article/.../1275%0A%0A
[7] Nurmukhametov, N., Temirova, A., & Bekzhanova, T. (2015). The
Problems of Development of Distance Education in Kazakhstan. Procedia -
Social and Behavioral Sciences, 182, 15–19. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.,
staffnew.uny.ac.id., 2015.04.729
[8] Yengin, I., Karahoca, A., Karahoca, D., & Uzunboylu, H. (2011).
Deciding which technology is the best for distance education: Issues in
media/technology comparisons studies. Procedia Computer Science, 3,
1388–1395. https://doi.org/10.1016/j.procs.,
Universitas Negeri Jakarta, 2011.01.020
[9] Tahar, I. (n.d.). Hubungan Kemandirian Belajar Dan Hasil Belajar
Pada Pendidikan Jarak Jauh.
text-id.123dok.com
[10] Andrew Jonathan, Henry Brando Junus Sompotan, Yudhisthira Arya
Nandaline, Yulyani Arifin, “ The friendship game of Pancasila: Design,
Implementation, and Evaluation”, 2020 International Conference on Information
Managemant and Technology (ICIMTech), 2020, lib.unnes. ac. id
[11] Simbolon, N. (2014). Faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar
peserta didik. Elementary School Journal Pgsd Fip Unimed, 1(2),
14–19. https://doi.org/10.24114/ESJPGSDwahidsistemkomputer.
blogspot.com V1I2.1323
Tidak ada komentar:
Posting Komentar