Jumat, 20 November 2020

Karya Tulis Ilmiah#TugasTekpen

 

 

MENGINDENTIFIKASI KESEMPATAN DAN HAMBATAN EKSTERNAL DALAM PEMBELAJARAN ELEKTRONIK

Niswatun Khasanah

ningniswa@gmail.com

 

A.  .  PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

 Saat ini, model pembelajaran semakin hari semakin maju. Oleh karena itu, diperlukan inovasi-inovasi serta perubahan-perubahan di setiap bidang tak terkecuali bidang pendidikan. Inovasi dan perubahan ini sangat diperlukan demi mewujudkan pendidikan yang maju agar ke depannya dapat menjadikan warga Indonesia berdaya saing tinggi. Salah satu inovasi dalam bidang pendidikan adalah diaplikasikannya seperangkat peralatan elektronik yang diharapkan mampu mendorong kemajuan pendidikan. Namun, salad pengaplikasiannya, seperangkat peralatan elektronik ini menemui beberapa hambatan.

Dapat beberapa pakar dan ahli teknologi setelah berinovasi dengan cara cara memajukan pendidikan dengan menempatkan pembelajaran menggunakan alat elektronik disamping itu, pembelajaran yang menggunakan alat elektronik tentu saja memiliki kesempatan dan hambatan eksternal, Oleh karena itu kita harus pintar-pintar dalam memilah-milah hal baik maupun buruk untuk kedepannya, oleh karena itu dalam karya tulis ilmiah ini akan dibahas mengenai Mengindentifikasi Kesempatan dan Hambatan Eksternal dalam Pembelajaran Elektronik.

 

2. Rumusan Masalah

             1. Apakah yang dimaksud dengan pembelajaran elektronik?

  2. Apa saja kesempatan dalam pembelajaran elektronik?

  3. Apa saja hambatan eksternal dalam pembelajaran elektronik?

 


 

 

B.     PEMBAHASAN

1.      Pengertian Pembelajaran Elektronik

Menurut KBBI (2009:8)[1], pembelajaran dengan kata dasar ajar artinya suatu ilmu/ pengeatahuan berproses agar diketahui banyak orang. Pembelajaran adalah sesuatu yang berproses untuk menjadikan seseorang tidak tahu menjadi tahu yang dimana mau belajar. Menurut Wikipedia[2], pembelajaran adalah sesuatu yang berproses interaksi pendidik oleh peserta didik untuk memperoleh pengetahuan/ ilmu di bangku sekolah.

Menurut Agustina dan Hamdu[3], pembelajaran yaitu suatu cara yang dilakukan oleh individu guna memperoleh perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Kesimpulannya, pembelajaran merupakan sesuatu yang kegiatan sistematik yang bersifat interaktif dan komunikatif oleh pendidik dengan peserta didik untuk memperoleh pengetahuan serta dibangku sekolah guna menghasilkan terjadinya tindakan belajar siswa suatu kegiatan belajar mengajar.

Menurut KBBI (2009:191)[4], elektronika adalah media yang dirancang berdasarkan prinsip elektronika; benda yang menggunakan media dibentuk atas dasar elektronika. Menurut Wikipedia[5], elektronik adalah media dibuat berdasarkan prinsip elektronika serta hal/ benda yang menggunakan alat tersebut. Menurut Carol E. Young, electronic is  the study, design, and use of devices  that depend on. Menurut Carol E. Young, elektronik adalah studi, perancangan dan pengunaan piranti berdasarkan media yang digunakan. Kesimpulannya, teknologi yang memiliki sifat listrik, digital, magnetic, nir- kabel, optik elektromagnetik.

Jadi, kesimpulannya pembelajaran elektronik adalah proses intruksi/ pembelajaran yang melibatkan penggunaan peralatan elektronik dalam menciptakan, membantu perkembangan, penyampaian, menilai dan memudahkan suatu proses brlajar mengajar sebagai pusatnya serta dilakukan secara interaktif kapanpun dan dimanapun.

2.      Kesempatan dalam Pembelajaran Elektronik

Kesempatan dalam pembelajaran elektronik, terdapat empat, yaitu:

a.    Meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara siswa dengan guru (enhance interacitivity)

Apanila dirancang dengan cermat, pembelajaran elektronik bisa meningkatkan kadar interaksi pembelajaran, antara siswa dengan guru, antara siswa dengan bahan belajar (enhance interactivity). Berbeda dengan pembelajaran bersifat konvensional, tidak seluruh siswa dalam kegiatan pembelajaran konvensional berani atau mempunyai kesempatan untuk mengajukan pertanyaan dalam diskusi. Karena pada pembelajaran yang bersifat konvensional, kesempatan yang disediakan oleh guru untuk berdiskusi sangat terbatas. Biasanya, kesempatan yang terbatas ini juga cenderung didominasi oleh beberapa siswa yang cepat tanggap dan berani. Keadaan yang demikian, tidak akan terjadi pada pembelajaran elektronik, siswa awalnya malu atau kurang berani mempunyai peluang yang luas untuk mengajukan pertanyaan maupun menyampaikan pernyataan/ pendapat tanpa merasa  diawasi atau mendapat tekanan dari teman sekelas.

b.      Memungkinkan interaksi pembelajaran dimana saja dan kapan saja ( time and place flexibility),

Mengingat sumber belajar yang sudah dirapikan secara elektronik dan siswa disediakan layanan akses melalui internet, maka siswa dapat melakukan interaksi dengan sumber belajar ini kapan saja dan di mana saja. Demikian juga dengan tugas-tugas, kegiatan pembelajaran, dapat diserahkan kepada guru begitu selesai dikerjakan. Tidak perlu menunggu sampai ada janji untuk bertemu dengan guru. Siswa tidak terikat ketat dengan waktu dan tempat penyelenggaraan kegiatan pembelajaran sebagaimana halnya pada pendidikan konvensional.

c.        Menjangkau siswa dalam cakupan yang luas (potential to reach a global audience),

Fleksibilitas waktu dan tempat dapat dijangkau oleh jumlah siswa melalui kegiatan pembelajaran elektroniksecara meluas. Tempat dan waktu  tidak lagi menjadi hambatan. Siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, seseorang dapat belajar. Interaksi dengan sumber belajar dilakukan melalui internet. Kesempatan belajar benar-benar terbuka lebar bagi siapa saja yang membutuhkan layanan akses ini.

d.      Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembejaran (easy updating of content as well as archivable capabilities).

Fasilitas yang tersedia dalam teknologi internet terus berkembang, dalam hal ini turut membantu mempermudah pengembangan bahan belajar elektronik. Demikian juga dengan penyempurnaan atau pemutakhiran bahan belajar sesuai dengan tuntutan perkembangan materi keilmuannya dapat dilakukan secara mudah. Di samping itu, penyempurnaan metode penyajian materi pembelajaran dapat dilakukan dengan baik yang didasarkan atas umpan balik dari siswa maupun hasil penilaian guru selaku penanggung- jawab dalam materi pembelajaran itu sendiri. Pengetahuan dan keterampilan untuk pengembangan bahan belajar elektronik ini perlu dikuasai terlebih dahulu oleh guru yang akan mengembangkan bahan belajar elektronik. Demikian juga, dengan pengelolaan kegiatan pembelajarannya sendiri. Harus ada komitmen dari guru yang akan memantau perkembangan kegiatan belajar siswanya serta guru secara teratur memotivasi siswanya.

3.      Hambatan Eksternal dalam Pembelajaran Elektronik

Hambatan eksternal dalam pembelajaran elektronik, sebagai berikut:

a)      Sistem Pendidikan mendapat banyak masalah, seperti kurangnya dalam peralatan, sumber daya manusia dan keterbatasan teknologi pendidikan,

b)      Kualitas pengajar yang belum mencukupi keahlian (Jaya, 2007)[6]

c)      Penggunaan media e- learning yang memiliki kapasitas yang cukup besar, koneksi jaringan dan kesalahan teknis, seperti server down and error, dapat menghambat keberhasilan pembelajaran (Nurmukhametov et al., 2015),[7]

d)      Penggunaan hypermedia technology tidak memiliki nilai tambah jika digunakan hanya untuk mengganti tugas- tugas yang menggunakan kertas atas tulisan tangan (Yengin et al., 2011), [8]

e)      Pada masa pandemi banyak orang tak bertanggung jawab melakukan tindak kejahatan, seperti bocornya akun yang tercantum dalam aplikasi diskusi dan penunjangan pembelajaran yang merugikan banyak pihak dan proses pembelajaran yang terganggu (Tahar., nd),[9]

f)       Sulit untuk mengontrol perkembangan pembelajaran, walaupun menggunakan game education,  dapat menumbuhkan minat belajar dalam peningkatan keberhasilan pembelajaran masih kecil (Education et l., 2012),[10]

g)      Kreatifitas pengajar dalam memberikan materi lewat media juga diperbolehkan, sebagai faktor yang mempengaruhi minat belajar dalam PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) ini. (Simbolon., 2014).[11]

 

 

 

 

 

C.     PENUTUP

1.      Kesimpulan

·         Pembelajaran elektronik adalah proses intruksi/ pembelajaran dengan melibatkan penggunaan media peralatan elektronik dalam menciptakan, penyampaian, menilai serta memudahkan suatu proses kegiatan belajar mengajar sebagai pusat serta dilakukan secara interaktif kapanpun dan dimanapun.

·         Kesempatan dalam pembelajaran elektronik, menurut K. Wulf (1996: 10), terdapat empat, yaitu: Meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara siswa dengan guru (enhance interactivity), memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dimana saja dan kapan saja ( time and place flexibility), menjangkau siswa dalam cakupan yang luas (potential to reach a global audience), dan mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembejaran (easy updating of content as well as archivable capabilities).

·         Hambatan eksternal dalam pembelajaran elektronik, yaitu sistem pendidikan mendapat banyak masalah, kualitas pengajar yang belum mencukupi keahlian, penggunaan media e- learning yang memiliki kapasitas yang cukup besar, koneksi jaringan dan kesalahan teknis, penggunaan hypermedia technology tidak memiliki nilai tambah, pada masa pandemi banyak orang tak bertanggung jawab melakukan tindak kejahatan, sulit untuk mengontrol perkembangan pembelajaran, walaupun menggunakan game education, dan kreatifitas pengajar dalam memberikan materi lewat media juga diperbolehkan.

2.      Saran

Dalam pembelajaran elektronik/ e- learning ada kekurangan semangat untuk belajar jika tidak inisiatif sendiri, materi yang diberikan hanya melintas di otak serta menunda- nunda waktu pengerjaan / deadline. Kurang efektif bagi kaum kurang mampu dalam pembelian kouta/ pulsa, kurang efektif juga dalam memahami materi yang diberikan.

Sebaiknya, dosen pengampu/ guru memberikan untuk bisa tatap muka, meskipun itu seminggu sekali. Dan juga bertemu kawan- kawan.

D.    DAFTAR RUJUKAN

Agustina & Hamdu G., L (2011). Pengaruh motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar IPA di Sekolah Dasar. Jurnal Penelitian Pendidikan, Rumah  Publikasi. com 12(1), 81- 86

Alya Qonita, KBBI, PT Indah Jaya Adipratama, 2009, hal. 8

Andrew Jonathan, Henry Brando Junus Sompotan, Yudhisthira Arya Nandaline, Yulyani Arifin, “ The friendship Game of Pancasila: Design, Implementation, and Evaluation”, 2020 International Conference on Information Managemant and Technology (ICIMTech),  2020, lib.unnes.ac.id

Education in Kazakhstan. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 182, 15–19. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.04.729

https: // id.wikipedia.org/wiki/ pembelajaran, akses tgl   23/10/2020, pkl 21:56

https: // id.wikipedia.org/ wiki/ elektronik, akses tgl 23/10/2020, pkl 23:54.

Jaya, H. N. (2017). Keterampilan Dasar Guru untuk Menciptakan Suasana Belajar yang Menyenangkan. Didaktis: Jurnal Pendidikan Dan Ilmu Pengetahuan,17(1),2335.journal.umsurabaya.ac.id/index.php/.../article/.../1275%0A%0A  

Nurmukhametov, N., Temirova, A., & Bekzhanova, T. (2015). The Problems of Development of Distance

Tahar, I. (n.d.). Hubungan Kemandirian Belajar Dan Hasil Belajar Pada Pendidikan Jarak Jauh. text-id.123dok.com

Simbolon, N. (2014). Faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar peserta didik. Elementary School Journal Pgsd Fip Unimed, 1(2), 14–19. https://doi.org/10.24114/ESJPGSD. Wahidsistemkomputer.blogspot.com V1I2.1323

Yengin, I., Karahoca, A., Karahoca, D., & Uzunboylu, H. (2011). Deciding which technology is the best for distance education: Issues in media/technology comparisons studies. Procedia Computer Science, 3, 1388–1395. https://doi.org/10.1016/j.procs. Universitas Negeri Jakarta, 2011.01.020

 



[1] KBBI, Alya Qonita, PT Indah Jaya Adipratama, 2009, hal. 8

[2] https: // id.wikipedia.org/wiki/ pembelajaran, akses tgl   23/10/2020, pkl 21:56

[3] Agustina & Hamdu G., L(2011). Pengaruh motivasi belajar siswa terhadap prestasi  belajar IPA di Sekolah Dasar. Jurnal Penelitian  Pendidikan,  Rumah Publikasi.com 12(1), 81-86.

[4] Ibid, hal. 191

[5] https: // id.wikipedia.org/ wiki/ elektronik, akses tgl 23/10/2020, pkl 23:54.

 

[6] Jaya, H. N. (2017). Keterampilan Dasar Guru untuk Menciptakan Suasana Belajar yang Menyenagkan. Repository. Uph. edu, journal.um-surabaya.ac.id/index.php/.../article/.../1275%0A%0A

[7] Nurmukhametov, N., Temirova, A., & Bekzhanova, T. (2015). The Problems of Development of Distance Education in Kazakhstan. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 182, 15–19. https://doi.org/10.1016/j.sbspro., staffnew.uny.ac.id., 2015.04.729

[8] Yengin, I., Karahoca, A., Karahoca, D., & Uzunboylu, H. (2011). Deciding which technology is the best for distance education: Issues in media/technology comparisons studies. Procedia Computer Science, 3, 1388–1395. https://doi.org/10.1016/j.procs., Universitas Negeri Jakarta, 2011.01.020

[9] Tahar, I. (n.d.). Hubungan Kemandirian Belajar Dan Hasil Belajar Pada Pendidikan Jarak Jauh. text-id.123dok.com

[10] Andrew Jonathan, Henry Brando Junus Sompotan, Yudhisthira Arya Nandaline, Yulyani Arifin, “ The friendship game of Pancasila: Design, Implementation, and Evaluation”, 2020 International Conference on Information Managemant and Technology (ICIMTech), 2020, lib.unnes. ac. id

[11] Simbolon, N. (2014). Faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar peserta didik. Elementary School Journal Pgsd Fip Unimed, 1(2), 14–19. https://doi.org/10.24114/ESJPGSDwahidsistemkomputer. blogspot.com V1I2.1323

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Proporsal Penelitian Kuantitatif

    PENGARUH GAME ONLINE DENGAN MOTIVASI BELAJAR MAHASISWA FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONOROGO ...